Pengalaman seorang istri - 2

Kontak seksual lain yang kami lakukan sebelum menikah adalah petting. Abang yang memulai mengurangi pakaian yang dikenakan ketika petting. Semula ia mengatakan bahwa kemaluannya agak sakit bila mengenakan celana panjang, ia kemudian hanya mengenakan celana dalam ketika petting, semakin lama, ia memintaku untuk mengganti celana panjang dengan celana pendek, dengan alasan lebih enak dan tidak panas. Biasanya kalau kami berduaan, aku langsung mengganti celana pendek, juga bila aku ke tempat kost Abang karena aku membawa celana pendek, atau menggunakan celana pendek Abang. Selain lebih enak, juga biar dapat dengan segera melayani Abang tanpa harus menunda gejolak dengan mengganti celana dulu. Biasanya nafsuku dapat langsung hilang bila ada sesuatu yang menunda. Lama-kelamaan aku mulai melepas celana pendek dan hanya menggunakan celana dalam saja. Hal ini kulakukan selain aku semakin sayang dan percaya sama Abang, aku lebih senang karena sentuhan kulit dengan kulit semakin terasa.

Suatu kali, ada pengalaman yang sangat menarik, yaitu ketika itu siang hari, dan kami ingin tidur siang bersama (benar-benar tidur). Abang mengatakan bahwa ia ingin membuka celana dalamnya, hal ini memang kebiasaan Abang tidur. Dia mengatakan bahwa Abang punya kebiasaan membuka celana sama sekali ketika tidur. Waktu itu aku tidak percaya, dan tidak mengerti mengapa, aku mengira bahwa Abang mengada-ada. Saat itu aku hanya bilang terserah Abang, dan aku segera masuk selimut dan berbaring miring memunggungi Abang. Tidak lama kemudian Abang berbaring sambil memelukku dari belakang. Aku pegang tangannya, Tidak seperti biasanya, ketika kakiku bergerak, ada perasaan aneh di sekitar pahaku (aku hanya mengenakan celana pendek waktu tidur saat itu). Ada seperti menyentuh rambut halus, dan ada seperti benda Aneh. Aku sukar menggambarkannya, akan tetapi aku berpikir, pasti itu adalah alat kelamin Abang. Aku kaget sekali, dan aku langsung bertanya ke Abang, apakah dia jadi membuka celananya. Abang mengiyakan. Aku terheran-heran.

Kemudian Abang bercerita tentang kondisi kemaluannya, ia bercerita bahwa ia disunat dan seterusnya. Pada waktu itu yang menarik adalah bahwa Abang menawarkan untuk memperlihatkan kemaluannya kepadaku. Aku saat itu sebetulnya ingin sekali melihat, akan tetapi malu untuk memintanya. Abang sepertinya tahu, lalu aku diminta berbaring di dadanya, (aku suka sekali berbaring di dadanya) dengan kepala menengok ke arah kakinya (bayangkan apabila anda bersama pasangan anda berjalan berdua, lalu tangan laki-laki merangkul, seperti itulah kami berbaring, tapi saat ini kepalaku bertumpu pada dadanya), lalu Abang menyingkapkan selimut yang menutupi kemaluannya, dan dari balik selimut aku melihat benda yang belum pernah kulihat (live show) sebelumnya, kelamin pria dewasa.

Aneh rasanya melihat kelamin pria, aku sama sekali tidak terangsang, namun aku tertarik sekali dan ingin melihat lebih jelas. Lalu dengan masih berbaring, Abang menjelaskan kepadaku bagian-bagian, nama-namanya, gunanya dan lain-lain. Ia juga memperlihatkan luka bekas sunat. Ia menceritakan banyak tentang alat kelaminnya. Aku senang sekali mendapatkan pengetahuan baru tentang seksualitas. Alat kelamin pria! Saat itu alat kelamin Abang kulihat jelek sekali, keriput hitam dan ada urat-uratnya, ditambah lagi rambut keriting yang ada di sekitar batang hitam itu. Aku sama sekali tidak tertarik secara seksual melihat kemaluannya.

Abang juga menawarkan kalau ingin menyentuh alat kelaminnya. Aku sedikit bingung, antara mau tahu, malu dan juga agak jijik. Aku hanya menutupkan mata dan menggidikkan wajah. Abang seakan tahu bahwa aku sedang bimbang, maka dia memegang tanganku, dan dibimbingnya tanganku ke kelaminnya. Saat itu tanganku terkepal kuat, namun Abang tetap menyentuhkan jariku ke kelaminnya dengan lembut. Ada suatu yang lembut kurasa di jari-jariku. Perlahan kubuka kepalan tangan, dan Abang tidak lagi memegang tanganku dengan kuat, tapi memegang dengan lembut dan membimbing tanganku menyentuh kelaminnya. Aku pun pelan-pelan mulai melihat tanganku yang sedang menyentuh alat kelaminnya. Aneh, benda jelek seperti ini mempunyai kulit yang sangat lembut. Di dalam scrotum-nya tampak dua bola yang bergerak-gerak.

Aku memberanikan diri untuk memegang batang kemaluannya setelah bertanya apakah akan sakit atau tidak. Aku memegangnya dengan dua jariku. Aku melihat-lihat dan membalik-balikkan batang kelamin Abang, (jeleknya kelamin pria ini, pikirku saat itu). Abang berkata bahwa ia senang sekali karena aku mau memegangnya. Saat itu aku berterima kasih sekali karena Abang mau menunjukkan sesuatu yang baru kuketahui, yang sebetulnya sudah lama aku ingin tahu, seperti apa sih alat kelamin pria itu. Saat ini aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, bukan hanya melihat, tapi menyentuh, dan memegangnya. Aku pun tahu nama dan guna bagian dari alat kelamin pria, bukan hanya teori, tapi langsung melihat dan menyentuhnya. Saat itu aku merasa senang sekali. Siang itu kami tidak melakukan petting, tapi kami tidur siang berdua, aku tetap berbaring dengan kepala bersandar di dadanya, dan tertidur ketika aku masih memandangi dan memegang mainan baruku.

Sejak aku melihat dan memegang alat kelamin Abang, Abang tambah membekaliku dengan berbagai pengetahuan tentang kontak seksual. Abang mengajariku untuk memanipulasi alat kelamin pria yang benar. Abang mengatakan bahwa pria amat senang apabila wanita memegang alat kelaminnya. Aku tertarik sekali, dan kebetulan setelah berkali-kali aku memegang dan melihatnya, aku tertarik untuk memegangnya. Adalah hal yang menarik dan lucu melihat alat kelamin pria yang tadinya lemas, dan kecil terkulai, bisa menjadi batang keras, besar yang tegak. Tidak jarang batang kemaluan Abang berdenyut. Aku suka sekali sensasi ketika memegang batang kemaluan Abang dan batang kemaluan tersebut berdenyut.

Dari Abang aku diajari cara untuk memegang batang kemaluan secara benar, membelai dan memainkan scrotum yang menyenangkan tapi tidak menyakitkan, aku juga tahu bahwa bagian kepala sangat sensitif jadi sebaiknya tidak dengan gesekan yang terlalu kuat. Saat itu, aku menjadi suka sekali dengan batang kemaluan, terutama memainkannya dengan tanganku. Abang akan menggeliat kenikmatan apabila batang kemaluannya kupelintir-pelintir seperti melinting rokok. Tidak jarang aku sengaja membuka retsleting dan memegangi kelamin Abang ketika di dalam mobil (biasanya malam-malam). Aku menjadi senang memegang batang kemaluan, gemas rasanya memainkan batang kemaluan pria.

Biasanya apabila aku sedang memainkan batang kemaluan Abang, hasratku muncul, dan biasanya akan dilanjutkan dengan petting yang diakhiri dengan orgasme Abang dalam perasan tanganku. Pada kesempatan itulah aku juga tahu tentang sperma yang keluar dari batang kemaluan, rasanya pekat, lengket, berwarna putih dan hangat. Cairan sperma sangat kental dan kalau tidak ditutup atau dihalangi dapat menyemprot keluar jauh sekali. Jadi, setiap Abang mau orgasme, biasanya aku menutupi lubang kelaminnya dengan tissue atau celana dalamnya. Aku lebih senang menutupi dan melap dengan celana dalamnya, karena bila dengan tissue, biasanya tissue akan lengket di tanganku, atau di kelamin Abang.

Tidak seperti yang diceritakan di buku porno ataupun cerita-cerita porno, sperma Abang tidak berbau sama sekali, tapi memang repot juga kalau sudah mau orgasme, sibuk mencari tissue atau celana dalam (tapi aku senang lho). Entah kenapa, aku selalu merasa senang sekali kalau Abang orgasme. Kalaupun aku tidak mengalami orgasme, akan tetapi aku sangat senang dan bahagia melihat Abang orgasme. Hal ini memang tidak terlalu sering terjadi, karena biasanya bila melakukan petting, aku akan orgasme terlebih dahulu, baru kemudian Abang akan orgasme setelah melakukan petting lagi denganku atau dengan aku memijat dan meremas batang kemaluannya.

Petting dan Oral Seks

Pengalamanku bertambah lagi setelah aku mulai berani mencium batang kemaluan Abang. Semula aku ragu-ragu, karena aku masih berpendapat bahwa kelamin itu jorok. Namun setelah Abang berulangkali meyakiniku, bahwa alat kelamin tidak jorok, dan hampir sama dengan anggota tubuh yang lain, maka aku perlahan-lahan mulai memberanikan diri.

Semula aku hanya mau mencium dengan menempelkan bibir saja. Hal itu setelah dipaksa oleh Abang. Tapi lama-lama, aku terbiasa, dan ada daya tarik sendiri, entah apa. Aku menjadi suka menciumi batang kemaluan Abang. Aku lalu bertanya, sebetulnya apa yang disukai Abang. Abang memberikan contoh yang diinginkan dengan jarinya, tapi gambaran tentang cara yang disukai Abang baru jelas setelah Abang memberi contoh dengan pisang. Ya, alat peraganya pisang, dan sangat efektif dalam memberikan pelajaran kepadaku. Abang menjelaskan bahwa ketika aku melakukan oral seks, terkadang gigiku menyentuh kulitnya. Hal ini tidak menyenangkan. Abang mencontohkan caranya supaya tidak ada bekas gigi di kulit pisang. Dan hasilnya? Luar biasa. Aku sendiri terkagum-kagum atas dampak yang aku lakukan ketika mempraktekan hisapanku. Abang begitu menikmatinya, menggelinjang dan mendesah-desah. Aku tidak pernah melihat Abang menikmati kontak seksual seperti saat itu.

Oleh karena itu aku sangat menyukai oral seks, dan sejak itu aku terbiasa dengan oral seks. Aku dapat melakukannya dengan baik, aku biasa melakukannya di mobil, di kamar, dan di mana saja ada kesempatan. Aku suka sekali melihat Abang menggelinjang kenikmatan, aku suka sekali melihat dan merasakan batang kemaluan Abang bergerak-gerak ketika dirangsang. Biasanya batang kemaluan Abang akan sangat cepat ereksi bila aku menghisap kepala batang kemaluan, dan memainkan lidahku di kepala batang kemaluan seperti sedang menghisap permen kojak (tahu kan, permen bundar yang ada gagangnya).

Setelah sering kami melakukan petting atau oral seks, dengan keadaan Abang bugil, dan aku hanya mengenakan pakaian dalamku, lama-lama aku berani juga membuka celana dalamku ketika petting. Hal ini aku beranikan setelah mendengar cerita Abang tentang temannya yang suka melakukan petting dengan pacarnya tanpa mengenakan apapun, tapi tidak melakukan penetrasi. Aku tertarik juga, lagi pula selama ini Abang suka memasukkan kelaminnya ke celana dalamku, jadi sama saja. Akhirnya pada suatu saat aku membiarkan Abang membuka celana dalamku.

Semula aku masih malu dan menutupi kemaluanku dengan tangan bila Abang melihat ke arah kelaminku. Aku juga masih belum memberikan kesempatan kepada Abang untuk memegang alat kelaminku. Tapi itu tidak bertahan lama. Lama-kelamaan kepercayaanku kepada Abang semakin meningkat dan membiarkan Abang melihat dan memegang alat kelaminku. Aneh rasanya alat kelaminku dipegang orang, berarti Abang adalah orang asing pertama yang memegang alat kelaminku. Aku kurang begitu senang bila alat kelaminku dipegang, apalagi kalau masih kering. Lubang kemaluanku memang sulit basah. Terkadang bisa kering dengan cepat kalau rangsangan tiba-tiba hilang. Karena aku sering mengeluh, akhirnya Abang jarang memegang dan menyentuh kelaminku lagi. Padahal sebetulnya nikmat juga kalau sudah terangsang.

Suatu saat, kami sedang bercumbu dan aku hanya mengenakan BH-ku saja, kemudian Abang menciumi badanku. Aku sangat menyukai bila Abang mulai menciumi seluruh tubuhku, terasa geli tapi nikmat. Ciuman Abang mulai turun ke bawah, aku tahu, pasti Abang akan melakukan oral seks terhadap diriku. Aku menolak, dan mati-matian aku tidak mau Abang melakukan oral seks kepada diriku. Aku tidak mau Abang kecewa setelah melakukan oral seks kepada diriku. Aku takut Abang mencium bau yang tidak sedap di area kewanitaanku. Aku tidak mau Abang menciumi daerah tubuhku yang kotor. Aku selalu meminta Abang untuk langsung memelukku dan melakukan petting seperti biasa, hanya dengan cara seperti ini aku berusaha merayu Abang untuk tidak melakukan oral seks, tapi tetap melakukan kontak seksual. Lama-kelamaan, Abang bertanya, mengapa aku menolak. Aku mengatakan sejujurnya tentang pandanganku. Abang tertawa mendengar penjelasanku, dan ia kembali memberikan penjelasan kepadaku tentang oral seks. Tidak lupa ia selalu memberikan literatur-literatur tentang oral seks dan menerangkan kepadaku dengan sabar.

Suatu saat, setelah aku yakin, aku membiarkan Abang melakukan oral seks kepada diriku. Ternyata luar biasa! Aku tidak dapat mengungkapkan perasaan nikmat yang kurasakan ketika Abang melakukan oral seks. Biasanya aku hanya bisa menggelinjang, meremas bantal atau memeluk bantal erat-erat ketika Abang memainkan lidahnya di sekitar bibir kemaluan atau di klitorisku. Sensasional sekali. Sayangnya aku tidak dapat mendekap tubuh Abang ketika Abang sedang melakukan oral seks. Aku merasa bahwa aku tidak akan bisa orgasme kalau aku tidak memeluk Abang. Maka biasanya bila kenikmatan begitu memuncak, aku menarik Abang untuk melakukan petting seperti biasa dan kemudian tidak lama kemudian aku akan mendapat orgasme.

Bersambung...

0 comments:

Post a Comment